catatan lapangan

     Alkisah sebuah dusun di atas gunung. Yang medannya, jika dilihat dari sumberdaya yang ada, hanya bisa ditaklukkan dengan telak oleh seekor ford ranger. Naik turun, berlubang berbatu dan terjal, tidak pernah mencicipi aspal hasil hutang dari luar negeri. Tiap saat melewati portal bayar seribu, kadang duaribu atas nama swadaya masyarakat yang katanya untuk pembangunan jalan dusun tapi tak juga kunjung menuai hasil. Kadang kami hanya bisa berjalan kaki. Semuanya dilakukan untuk satu tujuan: sampai ke rumah anak berkebutuhan khusus yang terletak di seberang sawah, kolam, rimbun pepohonan, ladang dan sungai. Berangkat pada pagi hijau-biru berkabut, pulang saat langit kelam menyambut.

      Saat itu, sampailah aku ke rumah anak ini. Rumah kecil bersahaja, semen kayu cat semampunya, berlantaikan tikar dan tanah. Seperti biasa, ketika masuk rumah anak berkebutuhan khusus sambil menyalami keluarga dan tetangga, mataku bergerak kesana kemari mencari dan menebak dimana anak yang menjadi pemeran utama dalam penugasanku berada. Terkadang mereka berada pada tempat yang tidak terduga seperti di kolong ranjang jika tidak mau bertemu dengan orang baru. Tapi kali ini tidak. Si rumput liar yang selalu menghilang dari rumah dan sering muncul di tengah keramaian pasar desa itu ada disana, berjongkok di atas kursi rotan sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tangan itu adalah tameng untuk melindunginya dari kerasnya dunia luar. Seperti itulah dia melindungi dirinya, mungkin dengan gestur serupa dia berlindung dari pukulan bertubi dari bapaknya. Bukan rahasia lagi. Disanalah dia, dengan celana kumuh yang entah kapan terakhir kali diganti, dengan kaki yang entah kapan terakhir kali dicuci. Ada sedikit penyakit di kaki itu, terkadang digaruk oleh kukunya yang menghitam. Aku tahu apa konsekuensi jika jarak kami terlalu dekat, tapi biarlah. Toh aku membawa sebungkus tissue antiseptik, sisanya biarlah Tuhan yang mengurus. Tubuh kecil kurusnya membuatku salah menebak umurnya, ternyata dia sudah terlalu besar untuk tidak tahu cara berbicara. Hanya suara “eeehhhh….” yang keluar dari mulutnya selama aku berada disitu. Aku datang dalam rangka pedekate dengan anak ini, sebab laporan monitoring pertama mengatakan dia tidak mau dilatih (pelatihan adalah penyebab utama mengapa muka-muka kami muncul disini).

     “Kali ini dia harus mau,” begitulah niat muluk-mulukku, karena aku belum ada ide brilian tentang bagaimana caranya. Aku hanya datang berbekal kertas kosong, karton warna-warni, dan spidol 4 warna besar-besar, sebab katanya dia suka menggambar. Aku ingin merebut hatinya. Kuambil kartu-kartu bergambar dan beberapa lembar kertas polos. Kugambar bermacam-macam benda diatas kertas itu, meniru kartu bergambar. Berkali-kali kudekati dia dan mengajaknya menggambar bersamaku, tapi dia tak juga mau. Hanya sesekali ia melirik pada kertas dan spidol itu. Entah sudah percobaan yang keberapa, kemudian dia merebut gambar itu dan menunjukknya sambil ber-eeehhh ehhh. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas dia mulai suka dengan gambar itu. Dengan hati gembira karena perubahan kecil ini, tersenyumlah aku, kuelus punggungnya perlahan. Sekarang tinggal membuatnya mau menggambar. Aku tidak tahu berapa lama daya tahanku, sebab aku lupa sarapan dan keringat dingin mulai mengucur karena sangat lapar.

       Aku mulai sedikit kehilangan konsentrasi dan konsistensi untuk membuatnya nyaman denganku, pandanganku juga mulai beralih antara dirinya dan kader yang melaksanakan pelatihan. Maklum, aku juga harus memonitor mereka.  Ketika itu aku merasa sedikit geli karena tingkah lakunya. Ketika aku memandang ke arah lain, perlahan mulai diambilnya spidol dan kertas, dan mencoret-coretnya. Dari sudut mataku kulihat dia mencorat-coret sambil melirik ke arahku. Ketika pandanganku kualihkan, dia menutup wajahnya lagi dengan tangan yang sudah memegang spidol. Pura-pura kualihkan pandanganku lagi, dan dia mulai mencorat-coret lagi. Entah berapa kali proses ini berulang sampai kesekian kali aku menoleh ke arahnya, akhirnya dia tidak menutup wajah, malah memandangku sambil tertawa kecil sambil memperlihatkan hasil karyanya. Aku tersenyum dan memujinya. Selanjutnya, ketika aku sedang memonitor kader, berkali ia mencolek betisku dengan spidol untuk mencari perhatian, sampai celana panjangku berhias beberapa goresan spidol. Kenyamanan yang muncul pada saat yang tepat karena sebentar lagi akan ada simulasi. Kuajak dia untuk ikut serta, dan syukurlah, dia mau. Tidak seperti hari kemarin. Walau setelah simulasi dia kembali pada gesturnya semula, jongkok, menutup wajah, pasif.

        Aku yakin dari dalam hati, anak ini sebenarnya tidak berkebutuhan khusus. Tapi anak seperti apa yang kau harapkan dibentuk dari hasil asuhan bapak ringan tangan serta ibu keterbelakangan mental?  Sementara pendampingan psikologis hanya sampai pada ruang nyaman berkarpet dan full AC pada sekolah khusus dengan terapi komplit di kota-kota? Memoriku melayang lagi pada hari-hari kemarin. Aku mendengar ratapan orangtua frustasi yang tidak tahu lagi bagaimana mengasuh anak berkebutuhan khususnya, sementara bapaknya hanyalah buruh pemecah batu gunung selatan dengan penghasilan 15.000 rupiah sehari. Aku mendengar cerita lolongan anak cerebral palcy yang ditinggal neneknya ke ladang, sementara mereka hanya tinggal berdua di sebuah gubuk yang jauh dari rumah-rumah tetangga. Aku pernah mencoba menahan seorang anak yang merasakan sakit yang mengganggu di kepalanya, sehingga ia suka membenturkannya ke dinding dan kaca-kaca di rumah sehingga pecah berantakan. Akulah juga yang mendapat kabar dari kader bahwa anak autis yang pernah kukunjungi, yang biasa dikurung di kamar karena tidak ada yang mampu mengasuhnya, suatu hari meloloskan diri dan berlari ke jalan raya, dan akhirnya meninggal tertabrak mobil.

        Pada satu titik tertentu, orang sudah tidak peduli lagi pihak mana yang memberikan bantuan. Mau negara mana kek, mau menambah hutang luar negeri dan hutang budi kek, yang penting mereka mendapatkan apa yang mereka harapkan, sehingga itu dapat meringankan hidup, walau sedikit. Sedikit saja.

Ditulis pada all about psychology, feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Healing Therapy

     Aku menemukan obat yang paling manjur yang pernah kutenggak. Sakit. Ya, sakit adalah obat dari sakit itu sendiri. Dan mereka, termakasih telah menyumbangkan rasa itu. Karena dengan itulah aku bertumbuh, entah bagaimana telah mencari jalannya sendiri menuju kesembuhan.

     Mulanya ingin kuhilangkan mereka dari kesadaranku. Karena sakit itu membuatku marah. Aku sangat mengenal marah, karena ia akrab denganku selama yang kuingat. Tapi kemudian aku membutuhkan mereka, agar bisa kuteriakkan sumpah serapah. Tak kuhindari kemarahan itu, malah kudekap dan kurasakan dengan sepenuh jiwa. Kemarahan adalah sumber energiku untuk lebih kuat dalam menghadapi kesusahan yang tak berkesudahan. Pada titik jenuhnya, marah itu balik mendekapku dan mengalirkan kepasrahan dalam denyut nadiku. Penerimaan akan segala yang kuanggap membuatku menderita, kekuatan untuk memaafkan.

     Mulanya ingin kuhilangkan mereka dari kesadaranku. Karena sakit itu membuatku sedih. Aku sangat mengenal kesedihan depresif yang memangsa habis semua kebahagiaan, karena ia akrab denganku selama yang kuingat. Tapi kemudian aku membutuhkan mereka, agar mengalir airmataku. Sebab kusadari ternyata menangis di tengah malam itu membuatku nyaman. Sebab tangis itu, pada ujungnya, membawa senyum geli karena hidung yang memerah. Seperti badut. Menghantarkanku pada kesadaran tentang hidup. Semangat untuk melayani semesta seisinya semampu jantung berpacu, sejauh paru-paru memompa agar tubuh kecil ini bisa terus menampung jiwa yang aneh.

     Seperti rasa pahit, yang hanya bisa dihilangkan dengan terus menelan pahit sampai kau tidak merasakan pahit sama sekali.

     Begitulah obat itu bekerja.

     Gambar

(March 5th, 2012)

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Para Pemintal Sejarah

jejak sejarah       Para pemintal sejarah, pernahkan terbayangkan oleh kalian, hidup kalian yang berkubang lumpur memburuh peluh saat awal peradaban telah menciptakan manusia rapi, bersih, dan mulia yang merajut hikmah dari kisah kalian? Pernahkah terbayangkan, hari peringatan akan kalian telah ditetapkan atas nama kisah cinta sejati yang menyuarakan kasih tanpa batasan?

        Bermunculan dari ranah apapun, para pemintal sejarah menerobos terowongan zaman. Mereka terlihat seperti orang sinting yang dicerca, tapi kemudian dipuja sampai beratus tahun setelah jasad berkalang tanah.

            Manusia banyak belajar dari masa lalu, wahai para pemintal sejarah. Lihatlah, dunia tak pernah sama, namun mengundang miris dan haru yang serupa. Tiap-tiap masa punya perjuangannya sendiri-sendiri, dan kami pun juga begitu.

      Kami perlahan menjadi pemintal sejarah untuk masa depan, bagaimanapun bentuknya. Di masa itu nanti, orang-orang akan berhenti dan mengambil gambar di depan monumen tentang kami, berdiri dan menengadah melawan silau matahari untuk melihat wajah-wajah yang terpahat pada patung diri kami. Menciptakan para profesor dan pembelajar dari kisah kami. Begitu terus. Dan perjuangan dimulai lagi dari sana, oleh manusia yang tidak akan pernah kami lihat lagi.

        Maka hidup ini adalah pergerakan melingkar, sebab lingkaran tak punya ujung. Seperti atom, seperti tata surya. Because we always start all over again right after every end. Sampai Tuhan memutuskan bahwa akhir itu adalah benar-benar sebuah akhir.

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Pria Loket

          Alkisah waktu itu, hari sudah gelap dan hujan turun. Dengan malas aku bangkit dari kursi dan mengalihkan pandangan dari laptop ketika seorang partner kerja hendak mengenalkan aku denganmu. Dan makin malas lagi ketika kau dengan acuh tak acuh menjabat tanganku dan menyebutkan sebuah nama. Nama yang aneh dan susah untuk diingat. Tak kulihat dengan jelas wajahmu dibawah temaram cahaya, karena listrik sedang padam. Sekarang pun sedang hujan dan listrik padam, oleh karena itu aku sekonyong-konyong teringat saat-saat itu. Begitulah kau pada waktu itu, nama dan raga yang kabur, seolah tertutup kabut asap rokok yang kemudian aku lihat sering mengepul dari rongga mulutmu.

         Akan tetapi tidak sama dengan siang hari. Dari jendela ruang tempatku berjibaku dengan imajinasi yang terangkai di layar monitor, dapat kulihat dengan jelas kau mondar-mandir dengan sama acuh tak acuhnya, seolah dunia ada di bawah kendalimu. Atau itu kau lakukan untuk menutupi kompleksitas masalah dalam hidupmu? Lewat jendela itu pula aku terhubung denganmu, tetapi sungguh susah berkomunikasi dengan jendela yang membatasi. Sehingga momen itu mengingatkan aku pada saat berurusan dengan petugas loket. Maka ku bayangkan kau menjelma menjadi petugas loket, dan aku adalah orang yang membutuhkan karcis.

             Petugas loket itu dapat menyenangkan dan menyebalkan seenak perutnya, tapi dia punya sesuatu yang aku butuhkan. Dia tahu itu, maka semakin menjadilah kelakuannya. Karena aku datang ke loket dengan misi mendapatkan karcis yang dikuasainya, maka aku berusaha bersabar. Terkadang aku berbicara dengan suara yang lebih keras dan pupil mata terfokus pada celah loket untuk melihat sosoknya, supaya tersampaikan dengan jelas maksudku. Kesusahan untuk terhubung dengan kaca loket yang membatasi membuatku terkadang ingin memecahkannya. Bukankah kau juga begitu?  Tapi tentu saja tidak. Sebentuk ego mengatakan bahwa itu tidak bisa terjadi karena kau punya tanggung jawab sebagai petugas, dan aku punya tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang beradab.

               Kau tahu, pria loket, sebenarnya siapapun bisa memecahkan kaca itu. Aku, kamu, kita bersama-sama, atau bahkan orang lain di dalam antrian yang sudah muak melihat kita yang terlalu lama bernegosiasi. Agar yang tak bisa dijangkau menjadi bisa disentuh. Agar lepas berhamburan semua kepingan rasa beserta semua konsekuensinya.

      Entah kapan waktunya, entah kaca itu pecah atau tidak, hai kau pria loket…terimakasih sudah menorehkan warna diatas kanvas abu-abu hidupku. Teruslah begitu.

Ditulis pada my life | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Al-Ashr (demi masa…)

Waktu…

Betapa cepatnya ia berlalu, membuat kau merasa dicambuk dari belakang, sehingga kau pun harus berlari tanpa henti. Tidak jarang dengan insting binatang yang terdesak kau mengambil arah apa pun ketika bertemu persimpangan dalam hidup.

Waktu…

Betapa ia juga bisa melambat, sehingga kau seperti lupa diri karena menikmati keindahan yang tadinya luput saat kau berlari, sehingga kau pun tidak menyadari bahwa ternyata kau tidak pernah maju, hanya berdiri di tempat dan terlena dengan keindahan itu.

Tidak ada peredaran benda-benda angkasa yang bisa menunjukkan bagaimana sifat waktu, paling paling hanya bisa menyuguhkan siang dan malam. Soal jam, hari, bulan dan tahun, itu juga tidak lebih dari hasil kesepakatan manusia, karena manusia senang menerapkan batasan. Waktu lebih dari sekedar itu semua. Ia pun akan terus bergerak dan tidak akan berhenti, tidak peduli apa pun yang terjadi.  Namun, ia akan selalu memberi kesempatan bagi setiap nurani yang mau mengenalnya. Dan seketika itu juga semua sudah berada pada tempatnya, tepat saat kau merasa : “sudah waktunya”.

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Bendera Putih di Depan Gang

Seperti apakah hari ini bagimu? Tadi pagi kau masih ada, menjalani hidup seperti biasa, tapi di siang hari tiba-tiba saja perubahan besar terjadi. Kini kau diantar ke sebuah tempat dimana nantinya kau akan sendirian, lama kelamaan dilupakan. Terlalu banyak kejutan dalam satu hari, bukan? Kau melihat kaki-kaki melangkah menjauhimu kemudian kau dapati lengang, hanya desir angin serta ambaian daun-daun dan bunga kamboja. Ikatan dengan dunia yang selama ini kau kenal sudah berakhir. Kau mendapatkan sebuah kesadaran berbeda, bahwa mulai sekarang akhir ini adalah sebuah awal yang baru, dan kau memulainya tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa. Kau betul-betul  seperti bayi yang baru tiba ke sebuah dunia yang belum dikenal. Kau juga belum tahu apa yang akan kau hadapi selanjutnya. Apa yang kau rasakan atas semua kesadaran itu? 

Berkali-kali dalam hidupku, ada saat dimana indera manusia-ku menjadi berkali lipat lebih peka. Ketika saat itu datang, aku memilih sendiri dan memandang sekelilingku. Tiba-tiba semua yang luput dalam hidup yang terus melaju jadi tersadari, terasa dengan jelas dan tajam. Aku seperti di dalam film dimana tokoh, benda-benda, sampai partikel sekecil debu pun terlihat dalam gerakan lambat. Mulanya aku takut, tapi kemudian damai, karena ada  sesuatu yang entah apa, selalu menjagaku dan membuatku merasa aman di tengah keterasingan yang tiba-tiba. Saat itu terjadi, aku seperti diajak oleh sesuatu untuk melihat realitas lain, yang aku sebut dengan “hati nurani alam semesta”, lebih dalam daripada hidup itu sendiri. Tapi aku tidak tahu dengan bahasa apa aku menceritakan tentang hati nurani itu. Aku juga tidak begitu mengerti, jadi biarlah aku simpan sendiri. Aku hanya mau bilang bahwa ketika aku sendirian, betul-betul dalam kesendirian yang murni, aku merasa damai. Saat itu hanya ada aku dan sebuah kekuatan yang lebih berkuasa daripada aku. Adakah kau, yang ikatannya dengan dunia sudah berakhir, juga merasakan yang sama denganku yang ikatannya hanya setengah-setengah dengan dunia ini? Adakah ledakan kedamaian, yang bahkan tubuh manusia pun tidak sanggup menahannya, juga terjadi padamu?

Semoga hari ini adalah hari istimewa bagimu, seperti saat kau pertamakali bisa merangkak, seperti saat pertamakali kau bisa berjalan. Jadilah hari ini hari yang luar biasa. Jadilah impian dan imajinasi paling absurd sekalipun, terwujud hari ini. Rindukanlah kami, tapi jangan pernah menginginkan kami dan hidupmu kembali. Karena apa yang menantimu selanjutnya, aku rasa sudah lebih dari cukup untuk memberimu kekuatan untuk melangkah tanpa menoleh ke belakang. Selamat menjalani petualangan baru, saudaraku. Lihatlah jembatan itu, sekarang kau akan menyeberanginya, menuju dunia di seberangnya. 

Aku hanya bisa melihat dari halaman, iring-iringan yang keluar dari rumah di depan kos. Sementara bendera putih berkibar perlahan di depan gang, yang pastinya sudah berbau karbon dari lalu lalang kendaraan. Kudengar diriku bersenandung pelan: “Move on be  brave, stop weep at my grave, ‘cause I am no longer here. Please never let your memory of me disappear…If I die tomorrow I’ll be alright, because I believe, that after I gone…the spirit carries on.”

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Seribu Wajah Cinta (Pencerahan)

Sepulang dari bekerja, tiba-tiba aku merasa lelah sekali. Badanku mulai hangat, pertanda demam. Maka kurebahkan badanku di atas pembaringan. Ruangku terasa lapang, namun batin mengeluh sesak. Seketika aku berpikir, “bukan, demam ini bukan karena lelah setelah bekerja.” Kemudian seribu pikiran dan perasaan, yang sudah terikat erat bagai sepasang kekasih, mulai merangsek masuk. Maka inilah kata-kata yang keluar dan beterbangan ke angkasa raya…

Cinta itu adalah sebuah energi. Seperti hukum fisika, energi itu tidak dapat dimusnahkan, hanya bisa berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Kalau diinterpretasikan secara dangkal, cinta itu selalu membuat kita tersenyum, tertawa, bahagia. Akan tetapi ada saat-saat di dalam hidup, kita merasa sedih, marah, takut. Kita juga bisa merasa kecewa, putus asa, susah. Pada saat seperti itu, kemana cinta pergi? Akankah kita bisa hidup tanpa energi?

Cinta tidak pergi kemana-mana, sebab segala yang hidup di alam semesta ini tetap bertahan, tumbuh dan berkembang karena cinta. Tidak ada yang tetap seperti itu tanpa cinta. Mengapa sekarang ini keadaan dunia begitu kacau balau dan sepertinya akan segera berakhir? Karena manusia tidak mencintainya.

Hanya saja ada seribu wajah cinta. Kita bisa mengenalinya lewat tanda-tanda. Jadi…ketika engkau merasa kecewa, putus asa, susah…jangan buru-buru berteriak-teriak bahwa hidup ini menyebalkan, selamanya kau akan berduka, menyerang semua yang kau anggap brengsek, dan menjadi sinis dengan segala-galanya.  Ketika semua perasaan itu seperti menyerbu dirimu, sehari…dua bulan…atau bertahun-tahun, tapi kemudian engkau (malah) menjadi manusia yang lebih pemaaf, pengasih, dan penyayang karenanya…itulah cinta. Namun jika kau tidak (berusaha) mengenalinya, kau akan terperangkap di dalam kubangan penderitaan itu selama-lamanya. Maka musibah apakah yang lebih berat daripada itu? Karenanya diam, diamlah dulu…dan perhatikanlah tanda-tanda kehadirannya. Cinta itu ada, dan DIA adalah cinta. DIA ada untukmu.

“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” Q.S Al-Insaan (Manusia) : 11.

Liquid of happinness fall in synchronized crying. Dari pembaringanku, kudengar tiba-tiba saja hujan turun, seiring demamku yang juga mulai turun. Kesialan berhamburan lepas dari jiwaku, dan rahmat-NYA sedang menyirami ibu Bumi yang mendekapku dengan penuh kasih.

(Citra, Friday February 18th 2011)

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Dongeng Kucing Pasar

Aku perkenalkan padamu, seekor kucing pasar dengan bekas-bekas luka. Suatu hari dia datang ke dalam hidupku dengan tatapan yang sulit kutebak maknanya. Tapi aku tahu satu hal, dia lapar. Lalu aku membatin, “mau kuisi dengan apa ruang kosong yang membuatmu kelaparan?” Tapi aku tidak tahu dengan bahasa apa aku mengungkapkan pertanyaanku.

Kuikuti kemana langkahnya pergi, menyusuri pasar yang dipenuhi orang berwarna-warna. Diantara putih dan hitam. Diantara kaya dan miskin. Diantara lembut dan beringas. Diantara malaikat dan setan.  Aku memperhatikan bagaimana dia terhubung dengan semua yang kulihat di pasar itu. Dituntunnya aku untuk menemukan sebentuk kesadaran diantara kehidupan, bahwa tidak semua yang terlihat baik itu adalah benar. Skeptis memang, tapi begitulah adanya. Kali ini aku yang datang ke dalam hidupnya, dengan tatapan berjuta makna seperti yang dia punya.

Kucing pasar dengan bekas-bekas luka terbiasa hidup dengan cara apapun, demi mengisi ruang kosong itu. Tapi bukankah kita semuanya demikian?  Berjalan dengan angkuh seolah tidak membutuhkan apapun, tapi dia butuh. Maka kuisi ruang itu, dengan apa saja yang bisa aku pungut dari jiwa dan ragaku. Dia menatapku, tersenyum, dan melakukan hal yang sama.

Aku selalu ingat ekspresi tidak suka ketika ia melihatku menyisakan makanan di piringku. Sebab dia sangat menghargai makanan, sesuatu yang membuat raga terus bertahan, sesuatu yang diperjuangkan kaum papa yang tak henti-hentinya mengolah tanah. Jerih payah yang tidak dipedulikan oleh orang-orang brengsek (bukan, bukan kamu. Kamu tidak brengsek).

Satu pelajaran yang bisa kubagi denganmu. Jika kamu memutuskan untuk memelihara kucing pasar, jangan mengurungnya seperti  layaknya kucing rumahan yang baik hati. Sebab dia terbiasa bebas untuk datang dan pergi. Jangan pula bersedih saat dia hilang dari pandanganmu. Karena ketika di lehernya terikat kalung takdir berukir namamu, maka dia akan selalu kembali padamu.

Kini, aku dan kucing itu saling menanyakan hal yang sama. “Mau kuisi dengan apa ruang kosong yang membuatmu kelaparan?”. Jawabannya terdengar nyaring tanpa suara: “inilah hidup kita, jalani saja”.

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | 1 Komentar

Surat Cinta Dari Masa Silam

Tidak sedang berteori, hanya mengungkapkan perasaan, dan sesungguhnya hanya ALLAH yang berkuasa atas hatiku.

Pengakuan. Satu kata saja dan hatiku mulai bersuara dengan ramai.

Aku jadi teringat salah satu serial kesukaanku, Little House On The Prairie. Salah satu episodenya pernah bercerita tentang ibunya Laura yang mesti mengajar sementara sebagai guru pengganti di sekolah Laura. Pada saat ia mengajar di kelas, tak seorang muridpun mempedulikannya, bahkan melemparinya dengan kertas bekas. Waktu itu pelajaran mengeja kata dan ibu Laura menjadi marah karena sikap anak-anak itu. Satu ucapannya yang sangat aku ingat walau waktu itu aku masih kecil. “Apa diantara kalian ada yang bisa mengeja kata C-O-M-P-A-S-S-I-O-N?!” Ia menuliskan kata itu dengan kapur di papan tulis dan keluar dari kelas. Murid-murid terdiam. Yes, compassion. Bukan masalah pelajaran mengejanya, tapi apakah murid-murid punya rasa belas kasihan yang cukup untuk melawan ketidakpedulian di dalam diri mereka.

Bagaimana kepedulian bisa sangat penting? Ada penelitian yang pernah dilakukan oleh satu keluarga di Jepang. Mereka meletakkan tiga buah toples berisi nasi di rumahnya. Toples pertama ditempeli label “kamu pintar”, toples kedua dilabeli “kamu bodoh”, dan toples ketiga tidak dilabeli apapun. Setiap hari anggota keluarga itu berbicara pada nasi-nasi itu satu persatu. Toples pertama selalu diberi pujian, toples kedua selalu diberi makian, sedangkan toples ketiga tidak dipedulikan sama sekali. Tebak nasi di toples mana yang lebih cepat basi dan membusuk? Toples ketiga, yang tidak dipedulikan. Air yang terkandung di dalam nasi yang bereaksi seperti itu. Sebagian besar tubuh manusia terdiri atas air juga. Bahkan lebih baik dimaki daripada tidak dipedulikan.

Kamu tahu kan buku yang judulnya “A Child Called It”? Bagaimana David kecil dipanggil it, karena ibunya tidak peduli, bahkan tidak mengakui keberadaannya dengan memanggil dia “it”? Benda mati. Tapi David berjuang untuk memperoleh pengakuan, karena tidak ada satu manusiapun yang sanggup hidup tapi tidak dipedulikan.

Begitulah, manusia yang tidak dipedulikan akan mati pelan-pelan. Ketidakpedulian dari orang lain akan menggerogoti jiwanya, kemudian tubuhnya, perlahan-lahan dengan cara yang sangat menyakitkan. Ketidakpedulian adalah tindakan yang sangat kejam yang sanggup dilakukan oleh seorang manusia kepada makhluk hidup manapun, bahkan bukan karena makhluk lain akan mati pelan-pelan, tapi karena dapat mengubah manusia lain menjadi sama kejamnya dalam usahanya untuk memperoleh pengakuan. How come?

Tapi seperti David, I prefer die try than do nothing, berjuang demi sebuah pengakuan akan eksistensiku, bahwa aku ini ada, karena mati pelan-pelan tidak ada gunanya. Aku pikir semua manusiapun begitu. Mungkin kamu lupa kalo aku sering mengirimkan setiap ucapanku dan berharap supaya kamu mengucapkan sesuatu padaku, bahkan hanya satu kata saja…but it’s over now, I’m just trying to be alright.

Ditulis pada feel my soul | Di-tag | 4 Komentar

Saksikanlah Bahwa Ini Adalah Cinta Yang Murni

Saksikanlah bahwa ini adalah cinta yang murni, suci, yang datangnya dari ALLAH.

Sungguh malam itu aku menangis melihat engkau menunduk dan memaparkan nasibmu, takdir dan pelajaran dari Tuhan untukmu.

Semua karunia dan penderitaan akan membuat hidup mempunyai makna, sayang…

Berbahagialah…meskipun kadang terasa sulit meraihnya, tapi berjalanlah terus dengan senyum merekah.

Dan ketika rasa sulit itu datang, ingat…ingatlah aku.

Akan kukerahkan semua kemampuanku untuk membuat kebahagiaan itu datang padamu.

Sebab kebahagiaanmu adalah penyejuk jiwaku, kesedihanmu adalah kesakitan bagiku.

Bernyanyilah lagi, mainkan musik lagi, biarkan dunia mendengar suara hatimu!

Hiduplah sepenuh hati. Rasakan dunia dengan segenap inderamu, dengan segenap jiwamu

Sehingga aku akan merasakan hal yang sama sepanjang hidupku.

Doaku bagimu telah memenuhi langit yang luas hingga malaikat pun terpana.

Saksikanlah bahwa ini adalah cinta yang murni, suci, yang datangnya dari ALLAH.

Tak ada yang lain, hanya cinta saja.

(14 November 2008)

Ditulis pada my life | 4 Komentar