Alkisah sebuah dusun di atas gunung. Yang medannya, jika dilihat dari sumberdaya yang ada, hanya bisa ditaklukkan dengan telak oleh seekor ford ranger. Naik turun, berlubang berbatu dan terjal, tidak pernah mencicipi aspal hasil hutang dari luar negeri. Tiap saat melewati portal bayar seribu, kadang duaribu atas nama swadaya masyarakat yang katanya untuk pembangunan jalan dusun tapi tak juga kunjung menuai hasil. Kadang kami hanya bisa berjalan kaki. Semuanya dilakukan untuk satu tujuan: sampai ke rumah anak berkebutuhan khusus yang terletak di seberang sawah, kolam, rimbun pepohonan, ladang dan sungai. Berangkat pada pagi hijau-biru berkabut, pulang saat langit kelam menyambut.
Saat itu, sampailah aku ke rumah anak ini. Rumah kecil bersahaja, semen kayu cat semampunya, berlantaikan tikar dan tanah. Seperti biasa, ketika masuk rumah anak berkebutuhan khusus sambil menyalami keluarga dan tetangga, mataku bergerak kesana kemari mencari dan menebak dimana anak yang menjadi pemeran utama dalam penugasanku berada. Terkadang mereka berada pada tempat yang tidak terduga seperti di kolong ranjang jika tidak mau bertemu dengan orang baru. Tapi kali ini tidak. Si rumput liar yang selalu menghilang dari rumah dan sering muncul di tengah keramaian pasar desa itu ada disana, berjongkok di atas kursi rotan sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tangan itu adalah tameng untuk melindunginya dari kerasnya dunia luar. Seperti itulah dia melindungi dirinya, mungkin dengan gestur serupa dia berlindung dari pukulan bertubi dari bapaknya. Bukan rahasia lagi. Disanalah dia, dengan celana kumuh yang entah kapan terakhir kali diganti, dengan kaki yang entah kapan terakhir kali dicuci. Ada sedikit penyakit di kaki itu, terkadang digaruk oleh kukunya yang menghitam. Aku tahu apa konsekuensi jika jarak kami terlalu dekat, tapi biarlah. Toh aku membawa sebungkus tissue antiseptik, sisanya biarlah Tuhan yang mengurus. Tubuh kecil kurusnya membuatku salah menebak umurnya, ternyata dia sudah terlalu besar untuk tidak tahu cara berbicara. Hanya suara “eeehhhh….” yang keluar dari mulutnya selama aku berada disitu. Aku datang dalam rangka pedekate dengan anak ini, sebab laporan monitoring pertama mengatakan dia tidak mau dilatih (pelatihan adalah penyebab utama mengapa muka-muka kami muncul disini).
“Kali ini dia ha
rus mau,” begitulah niat muluk-mulukku, karena aku belum ada ide brilian tentang bagaimana caranya. Aku hanya datang berbekal kertas kosong, karton warna-warni, dan spidol 4 warna besar-besar, sebab katanya dia suka menggambar. Aku ingin merebut hatinya. Kuambil kartu-kartu bergambar dan beberapa lembar kertas polos. Kugambar bermacam-macam benda diatas kertas itu, meniru kartu bergambar. Berkali-kali kudekati dia dan mengajaknya menggambar bersamaku, tapi dia tak juga mau. Hanya sesekali ia melirik pada kertas dan spidol itu. Entah sudah percobaan yang keberapa, kemudian dia merebut gambar itu dan menunjukknya sambil ber-eeehhh ehhh. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas dia mulai suka dengan gambar itu. Dengan hati gembira karena perubahan kecil ini, tersenyumlah aku, kuelus punggungnya perlahan. Sekarang tinggal membuatnya mau menggambar. Aku tidak tahu berapa lama daya tahanku, sebab aku lupa sarapan dan keringat dingin mulai mengucur karena sangat lapar.
Aku mulai sedikit kehilangan konsentrasi dan konsistensi untuk membuatnya nyaman denganku, pandanganku juga mulai beralih antara dirinya dan kader yang melaksanakan pelatihan. Maklum, aku juga harus memonitor mereka. Ketika itu aku merasa sedikit geli karena tingkah lakunya. Ketika aku memandang ke arah lain, perlahan mulai diambilnya spidol dan kertas, dan mencoret-coretnya. Dari sudut mataku kulihat dia mencorat-coret sambil melirik ke arahku. Ketika pandanganku kualihkan, dia menutup wajahnya lagi dengan tangan yang sudah memegang spidol. Pura-pura kualihkan pandanganku lagi, dan dia mulai mencorat-coret lagi. Entah berapa kali proses ini berulang sampai kesekian kali aku menoleh ke arahnya, akhirnya dia tidak menutup wajah, malah memandangku sambil tertawa kecil sambil memperlihatkan hasil karyanya. Aku tersenyum dan memujinya. Selanjutnya, ketika aku sedang memonitor kader, berkali ia mencolek betisku dengan spidol untuk mencari perhatian, sampai celana panjangku berhias beberapa goresan spidol. Kenyamanan yang muncul pada saat yang tepat karena sebentar lagi akan ada simulasi. Kuajak dia untuk ikut serta, dan syukurlah, dia mau. Tidak seperti hari kemarin. Walau setelah simulasi dia kembali pada gesturnya semula, jongkok, menutup wajah, pasif.
Aku yakin dari dalam hati, anak ini sebenarnya tidak berkebutuhan khusus. Tapi anak seperti apa yang kau harapkan dibentuk dari hasil asuhan bapak ringan tangan serta ibu keterbelakangan mental? Sementara pendampingan psikologis hanya sampai pada ruang nyaman berkarpet dan full AC pada sekolah khusus dengan terapi komplit di kota-kota? Memoriku melayang lagi pada hari-hari kemarin. Aku mendengar ratapan orangtua frustasi yang tidak tahu lagi bagaimana mengasuh anak berkebutuhan khususnya, sementara bapaknya hanyalah buruh pemecah batu gunung selatan dengan penghasilan 15.000 rupiah sehari. Aku mendengar cerita lolongan anak cerebral palcy yang ditinggal neneknya ke ladang, sementara mereka hanya tinggal berdua di sebuah gubuk yang jauh dari rumah-rumah tetangga. Aku pernah mencoba menahan seorang anak yang merasakan sakit yang mengganggu di kepalanya, sehingga ia suka membenturkannya ke dinding dan kaca-kaca di rumah sehingga pecah berantakan. Akulah juga yang mendapat kabar dari kader bahwa anak autis yang pernah kukunjungi, yang biasa dikurung di kamar karena tidak ada yang mampu mengasuhnya, suatu hari meloloskan diri dan berlari ke jalan raya, dan akhirnya meninggal tertabrak mobil.
Pada satu titik tertentu, orang sudah tidak peduli lagi pihak mana yang memberikan bantuan. Mau negara mana kek, mau menambah hutang luar negeri dan hutang budi kek, yang penting mereka mendapatkan apa yang mereka harapkan, sehingga itu dapat meringankan hidup, walau sedikit. Sedikit saja.

